Posted in Info, Love

Sang Penggenggam Alam (Edisi 1)

Ini bukan karya saya, ini adalah cerbung buatan admin Pi KARYA MAYA difacebook. Hanya ingin berbagi saja🙂

Silahkan nikmati karya ini!^^

***

Jika kita menginginkan pisau yang sangat tajam jangan mencarinya dipasar loak, tetapi mintalah langsung kepada pandai besinya. Begitupun jodoh, saat kita menginginkan seseorang yang tepat untuk menemani hidup kita, tidak perlu repot-repot mencarinya disebuah biro jodoh, tetapi mintalah langsung kepada Tuhan yang menciptakannya.

***

Aku terlahir sebagai seorang wanita yang sangat terobsesi dengan dunia arsitektur, berawal dari sebuah novel yang membawaku bermimpi menjadi seorang arsitek dan bermimpi berjodoh dengan seorang arsitek hebat. Tokoh utama novel itu bernama Adrian yang tak pernah bisa lepas dari kacamatanya, seorang eksekutif muda dengan karir yang cemerlang, bekerja sebagai senior arsitek disebuah perusahaan Konsultan arsitektur ternama. Adrian memiliki tubuh yang tinggi, berkulit putih dan memiliki wajah yang membuat kaum hawa tersihir saat memandangnya. Dan sosok itupula yang kini selalu menjadi impianku.

Aku tidak pernah percaya pada cinta pada pandangan pertama, namun saat aku melihatnya, aku percaya dia berhasil merebut seluruh pikiran dan isi hatiku.
Pradipta Dwilangga, Seorang lelaki yang hampir sempurna bagiku. Aku mengenalnya saat aku berhasil mendapatkan proyek membuat logo dan branding sebuah resort yang berada di kota Bandung, sebuah proyek yang penuh kejutan.

Aku memanggilnya Dipta, lelaki yang tak banyak bicara, tatapannya tajam, setajam ucapannya yang terkadang membuatku merasa terluka. Namun saat aku melihatnya tersenyum kepadaku, aku berhasil melupakan pribadinya yang dingin, sombong dan angkuh. Bersamanya memang tidak menyenangkan, namun dia adalah wujud nyata dari Adrian, tokoh novel yang membayangi kehidupanku.

Sampai suatu hari aku melihatnya sedang berjalan bersama seorang wanita yang luar biasa cantik, wanita yang kini kuketahui bernama Kanaya. Melihat Dipta bersama wanita itu membuat keberanianku menciut drastis. Aku mengibarkan bendera putih bahkan sebelum aku berusaha mendekati Dipta. Sampai proyek itu berakhir, maka berakhir pula harapanku mendapatkan Pradipta.

Tuhan, berikan aku proyek yang sama dengan arsitek yang sama, agar aku bisa lebih lama dekat dengannya….

***

3 Tahun berlalu…

Hari pertunanganku bersama Fabian, lelaki yang membantuku menerima kenyataan, aku bukan seorang arsitek. Bersamanya aku lebih menghargai pekerjaanku sebagai desainer, Fabian seorang yang sangat menyenangkan, selalu berhasil membuatku tertawa. Senyumnya selalu menghiasi bibir tipisnya, dia memang sangat berbeda dengan sosok impianku, dan dia pun bukan seorang arsitek yang selalu membayangi kehidupanku.

Sejak Tuhan merenggut nyawa ibuku tujuh bulan yang lalu, Fabian tak pernah jauh dariku dan berjanji akan selalu menjagaku. Sampai hari ini tiba, Fabian melingkarkan cincin dijari manisku disaksikan kedua orang tua Fabian dan beberapa teman dekatku, mungkin sejak saat ini aku tidak akan sanggup kehilangan Fabian. Lalu Pradipta?? Tuhan pun tidak mengabulkan doaku, untuk apa aku menunggunya, sejak proyek itu berakhir aku tidak pernah melihatnya, mungkin dia kini sudah bahagia bersama Kanaya. Ah Sepertinya begitu…

***

Aku berjalan menuju ruangan Dina, teman terdekatku. Sudah hampir 4 tahun aku mengenalnya, aku sudah sangat mengenal keluarganya, keluarganya sudah seperti keluargaku sendiri. Bahkan sejak ibu meninggal, keluarganya mengajakku tinggal bersama dirumahnya, namun terlalu banyak kenangan dirumah yang membuatku tidak bisa meninggalkan rumah.
“Gimana kemarin?” sambut Dina saat aku duduk dihadapannya
“Taraaaaaam,” jawabku ceria sambil memamerkan cincin yang sudah melingkar indah dijariku
“Duuuuuuuh, senengnya,” katanya ikut merasakan kebahagiaanku
“Kamu sih pake gak dateng segala,” Jawabku dengan tampang penuh kekecewaan, manyun.
“Halah, udah dilamar masih jualan tutut, hahaha,” ledeknya lalu tertawa bersamaku
Tak lama kemudian, telepon genggamku berdering. Aku melirik jam yang melingkar dipergelangan tanganku. Pasti Fabian mau ngajak makan bareng….
“iya Bi,” Kataku setelah menekan tombol hijau
“Aku tunggu di kafe depan kantormu sekarang ya,” katanya lalu memutuskan panggilan.
Begitulah Fabian, saat dia mengajak pergi via telepon, dia dengan cepat memutuskan panggilan sebelum aku menjawab setuju atau tidak, namun kini aku mengerti, dia tidak ingin mendengar penolakan dariku.
“Bareng Fabian lagi?” tanya Dina setelah aku menyimpan telpon genggamku kedalam tas.
“Gak apa-apa kan Din?” ragu-ragu aku bertanya, belakangan aku memang selalu menghabiskan waktu bersama Fabian
“Enggaklah, lagian hari ini aku mau jemput seseorang,” katanya sambil mengajakku keluar dari ruangannya
“Siapa?” kataku sambil mengikuti langkah kakinya
“Kanaya,” jawabnya lalu berlalu menuju tempat parkir dan segera meninggalkan kantor.
Kanaya? Pacarnya Pradipta? Ah, wanita bernama Kanaya kan puluhan bahkan mungkin ratusan.
Lagian apa urusanku….

***

Disudut sebuah Kafe, duduk seorang lelaki yang sedang asyik memandangi Lcd laptopnya. Lelaki itu bernama Fabian, seorang lelaki yang kini resmi menjadi tunanganku. Kulitnya tidak terlalu putih, tubuhnya tidak terlalu tinggi, hidungnya mancung, dan dia jauh terlihat lebih tampan saat dia tersenyum.

“Udah lama Bi?” kataku saat aku duduk lalu menyimpan tasku diatas meja
“Sekitar sepuluh menitlah Rei,” jawabnya tanpa mengalihkan perhatiannya dari laptop dihadapannya
Aku segera memanggil pelayan dan memesan beberapa menu andalan di kafe ini. Mataku memandang satu persatu pengunjung kafe, tidak sengaja mataku menangkap sepasang mata yang sedang asyik memandang kearah kami, tapi tidak memperhatikanku, dia sedang asyik memperhatikan Fabian.
“Bi, liat deh, kamu kenal cewek yang duduk disana gak?” aku berbisik sambil menunjuk meja wanita itu dengan mataku
“Gak,” Jawabnya singkat lalu kembali dengan aktifitasnya
“Abi, liat yang bener,” Kataku sedikit memaksa
Fabian menuruti permintaanku, dia memperhatikan wanita itu lalu tersenyum simpul kepadanya. Wanita itu ikut tersenyum kepada Fabian.
“Jadi gimana?” tanyaku setelah Fabian kembali sibuk dengan laptopnya
“Apanya Rei?” dia balik bertanya
“Kenal gak? Makanya kalo aku lagi ngomong tuh perhatiin napa si,” kataku dengan nada sedikit tinggi
“Hahaha, ngambek dia, aku gak kenal dia Reisha sayang, lagian kenapa mikirin dia sih?” jawabnya lalu membereskan peralatan kerjanya yang berhasil membuatku dongkol
“Dari tadi dia ngeliatin ka…”
“Hai,” kata seorang wanita yang berhasil membuatku diam
Wanita yang cukup cantik dengan kemeja berwarna biru muda dan dipadukan dengan rok mini berwarna biru gelap. Rambutnya terurai berwarna coklat gelap dengan ujungnya yang bergelombang, polesan make up tipisnya melengkapi kecantikan wajahnya.
“Oh… hai,” jawab Fabian ramah
Segera ku tendang kakinya, agar dia tidak menebar pesona kepada wanita yang kini berdiri dihadapan kami.
“Kenalkan namaku Vina,” katanya seraya mengulurkan tangan kepadaku
“Reisha,” jawabku lalu menjabat tangannya
“Fabian,” Fabian menyebutkan namanya tanpa menjabat tangannya, mungkin Fabian sudah merasakan kakinya yang sakit karena ku injak
“Boleh gabung?” Katanya lalu memandang kami meminta persetujuan, tak lama kemudian pelayan datang mengantarkan pesanan kami
“Oh, tentu,” jawabku sambil tersenyum, tepatnya terpaksa tersenyum.
Mau apa sih dia?

“Eh, tapi aku ganggu kalian ya? Ya sudah ngobrolnya lain kali saja deh,” katanya kemudian berdiri. Sebelum pamit pulang, dia memberikan kartu nama. Sekilas aku membaca identitasnya, seorang arsitek di PT. Arun Arsitektur dan structure design. Kantornya Pradipta…

“Aneh,” gumamku setelah wanita bernama Vina itu meninggalkan kami
“Apa Rei?”
“Dia aneh,” jawabku mempertegas
“Gak aneh ko Rei, cantik. Hahahaha,” katanya menggodaku lalu tertawa.
“Itu, ada no teleponnya, hubungi aja,” jawabku sambil menyantap makanan yang mulai dingin itu
“Aku seneng lho klo kamu ngambek, muka jutek gitu cantik banget Rei,” Fabian mengeluarkan jurus andalannya saat melihatku emosi, merayuku.
“Terserah deh,” jawabku semakin kesel dibuatnya
“Eh aku ada tebakan, Tikus apa yang kakinya dua?” katanya sambil melahap pesanannya
“Tikus ngesot,” jawabku asal
“Hahaha, bukan. Tikus yang kakinya dua mickey mouse donk Rei,”
“Hmmmp,”
“Kalo bebek yang kakinya dua?”
“Donal Duck,” jawabku sangat yakin
“Yeeeeeeee, dimana-mana juga bebek emang kakinya dua kali, hahaha,” jawabnya lalu tertawa senang
“Hahahaha,” aku ikut tertawa bersamanya
“Makanya kalo mau jawab inget-inget dulu bebek tuh yang kaya gimana,”
“Iiiiiiiiiiiiiih Abi…” kataku manja
“Hahahaha,” Fabian kembali menertawakan kelakuanku

***

Rumah sakit…

Setiap bulan aku menemani Dina menemui Dr. Daniel. Sudah 2 tahun Dina menderita Lupus, dan aku dengan setia mengantarnya dan menyemangati hidupnya. Cobaan yang ada didepan kita tidak akan sebesar kekuatan yang ada dihadapan kita bukan?

Saat aku menunggu Dina yang sedang pergi ke Toilet, aku melihat wajah yang pernah ku kenal, rambutnya, matanya, Vina. Dia berjalan membawa amplop coklat, wajahnya tidak secerah hari itu.
Sakit apa dia??
“Liat apa Rei?” Suara Dina menyadarkanku
“Enggak,” jawabku lalu bertanya seputar kesehatan Dina.

apa urusanku dengan wanita itu…
*****
Lanjut ke edisi 2

Author:

Freelance Writer. 20. English Literature student.

Insert New Comments

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s