Posted in Info, Love

Sang Penggenggam Alam (Edisi 2)

Sang Penggenggam Alam (Edisi 2)

Minggu adalah hari yang tepat untuk melepas penat setelah satu minggu berkutat dengan pekerjaan, minggu siang aku menemani Fabian membeli hadiah untuk ulang tahun sepupunya.

“Rei, katanya cewek suka bunga ya?” Kata Fabian setelah kami berada disalah satu restoran jepang
“Gak semua, tapi kebanyakan sih begitu,” jawabku sambil membalas pesan singkat dari Dina
“Kamu suka bunga apa Rei?” dia kembali bertanya
“Bunga bank, hahhaha,” jawabku lalu bertanya
“Hahahha, matreee!” katanya sambil tertawa
“Bukan matre, tapi butuh,” jawabku disela tawaku

Setelah beberapa saat, makanan pun datang. Aku senang saat makan bersama Fabian, apapun yang sedang dia makan selalu terlihat enak dimataku.

“Rei, kamu pulang sendiri gak apa-apa kan?” kata Fabian setelah cukup lama kami berada di restoran itu
“Emangnya kenapa?” Tanyaku heran
“Aku mau ketemu klien,” jawabnya
Ketemu klien dihari minggu??

“Ya, sudah,” jawabku sedikit kesal

Aku keluar restoran meninggalkan Fabian yang masih duduk didalam, dia berjanji kepada kliennya akan menunggu direstoran itu. Sebenarnya tidak masalah bagiku dia mau bertemu klien dihari minggu, cuma aku merasa ada sesuatu yang dia sembunyikan, aku merasakan dia berbeda saat beralasan.
Tapi sudahlah, mungkin cuma perasaanku saja…

Seorang wanita berjalan terburu-buru dari arah yang berlawanan, dia melangkahkan kakinya dengan cepat sambil sibuk berbicara dengan telepon genggamnya, aku melihatnya berkali-kali melirik jam di pergelangan tangannya.
Mungkin Vina akan bertemu klien juga dihari minggu….

***

“Kanaya,” Kata wanita cantik yang sempat membuatku iri beberapa tahun yang lalu
Tepat sesuai dugaanku, seseorang yang dijemput Dina dihari itu adalah wanita cantik yang sama dengan Kanaya yang aku lihat saat bersama Pradipta, namun aku tidak pernah menduga bahwa ternyata Kanaya adalah sepupu dari Dina. Aku memang cukup dekat dengan keluarga Dina, namun aku tidak pernah mengenal sepupu Dina, tepatnya Dina sedikit tertutup saat aku bertanya tentang saudara sepupunya.

“Reisha,” jawabku sambil menjabat tangan putih dan mulus milik Kanaya
“Sepertinya, kita pernah ketemu,” katanya sambil berusaha mengingat sesuatu
“Oh ya?” aku balik bertanya
Iya, kita sempat bertemu tiga tahun yang lalu…

Aku melihat ada cincin yang melingkar dijari manis Kanaya, cincin yang melingkar dijari yang sama seperti cincin dijari manisku. Oh dia sudah tunangan…

“Din, tolong kasih ke temenmu yang lain ya,” kata Kanaya sambil menyerahkan beberapa lembar kartu berwarna kuning keemas dengan pita berwarna merah, undangan.
Aku melihat jelas inisial huruf yang ada dimuka undangan itu, K P.
Mereka benar-benar menikah….tapi bukannya aku juga sebentar lagi akan menikah??

***

Aku absen bolos mengantar Dina ke rumah sakit hari ini, pekerjaan menuntut perhatian lebih dariku.
Maafkan aku Dina…

Aku memperhatikan beberapa lembar gambar kemasan dihadapanku, banyak yang harus diperbaiki. Tak lama kemudian suara dering telepon genggamku membuyarkan konsentrasiku, segera ku aduk isi tasku mencari sumber keributan itu

“Kenapa Din?” jawabku
“kamu lagi apa?” katanya ragu
“ Fabian sudah menghubungimu hari ini?” lanjutnya.
Tumben dia nanya Fabian…
“Tadi pagi sih udah, kalo…”
“Dia belom ngajak makan bareng??” dia kembali memotong jawabanku
“Kenapa emang? Ko tumben nanya dia?” aku semakin heran
“Aku tadi liat cowok mirip Abi-mu itu, Malah mirip banget! Tapi dia bareng cewek sih…” jawabnya sedikit ragu
Cewek??siapa??
“Tante Dewi kali,” jawabku menghibur diri
“Masa emaknya muda gitu,” jawabnya masih ragu
“Tapi mungkin Cuma mirip aja,” lanjut nya lalu mengakhiri panggilannya.

Aku melirik jam dipergelangan tanganku, jam istirahat tinggal 10 menit lagi, tapi belum ada tanda-tanda Fabian akan menghubungiku. Segera kubereskan barang diatas meja kerjaku lalu pergi menuju kantor Fabian yang cukup dekat dari kantorku.

D’sign Studio, adalah sebuah perusahaan yang bergerak dibidang konsultan arsitektur, sudah 3 tahun Fabian bekerja diperusahaan ini sebagai interior designer. Aku melangkahkan kaki menuju ruang resepsionist, lalu aku melihat sosok yang sangat sulit kulupakan, Pradipta.

Tidak banyak yang berubah dari dirinya, tetap berkacamata, tetap putih dan bersih. Dia berjalan menghampiriku lalu tersenyum kepadaku, senyumnya tetap seperti dulu. Ah, jantungku tetap berdetang lebih kencang saat bertemu dengannya.

“Apa kabar Rei?” katanya setelah berdiri dihadapanku
“Baik, kamu?” jawabku sedikit gugup

Setelah melihatnya lebih dekat, kini aku menyadari ada beberapa yang berubah, dia sudah tidak serapih dulu, kemeja lengan panjang dilipatnya sampai siku, dia mengganti parfumnya, dan mengubah potongan rambutnya, frame kacamatanya sudah berbeda, dan harus ku akui dia jauh terlihat lebih tampan.
Mungkin Kanaya mengubah penampilannya agar dia terlihat sangat menarik…
“Lama tidak bertemu,” katanya kaku, Dipta memang bukan tipe lelaki yang ramah dan menyenangkan.
“Sudah hampir empat tahun, sekarang kerja disini?”
“Gak, aku masih betah kerja disana, disini ada sedikit urusan,” jawabnya
“Oh, kerja sama?”aku kembali bertanya sekedar basa basi
“Urusan penting,” jawabnya lalu berlalu meninggalkanku, tanpa pamit.

Pradipta memang bukan tipe orang yang mudah ditebak, banyak jawaban yang menggantung dari pertanyaan yang kuutarakan. Kadang aku sulit memahami penjelasannya saat aku merancang logo untuk proyek Resortnya. Namun bagaimanapun, dia aku sempat menyukainya. Sempat? Atau masih?

Ah, aku lupa sedang mencari Fabian…

Ku dorong pintu ruangan Fabian, astaga…
“Kamu kenapa Bi?” Tanyaku melihatnya sedang sibuk membersihkan darah yang keluar dari sudut bibirnya
“Aku… Itu… Hmmm,” Fabian kebingungan mencari alasan
“Kenapa Bi?” aku kembali bertanya, lalu mengambil alih kesibukannya membersihkan darah yang keluar dari sudut bibirnya
“Aku jatuh,” jawabnya tanpa membalas tatapanku

Kuperhatikan tunanganku itu, kemejanya sudah tidak serapih biasanya, setidaknya di jam kerja dia selalu rapih. Ada luka di sudut bibirnya dan sedikit memar ditulang pipinya,
Mungkinkah ini karena jatuh? Dilihat dari luka dan memarnya sepertinya bukan karena jatuh…

***

Hari ulang tahun Fabian…

Fabian seperti biasa menjemputku, aku tidak mempersiapkan kejutan apapun untuknya. Mungkin dia sendiri juga lupa hari ini ulang tahunnya. Aku melihat Fabian sibuk bersama telepon genggamnya, aku memutar otakku memikirkan kejutan apa yang akan kuberikan padanya.

Tak lama kemudian Fabian meninggalkanku sebentar untuk ke toilet. Aku melihat telepon genggamnya yang selalu dia jaga kini tergeletak pasrah diatas meja, tiba-tiba saja aku mendapat ide untuk menyembunyikan telepon genggam milik Fabian itu.

“Dimana ya?” gumamnya sambil merogoh saku celananya lalu mengaduk isi tas kerjanya
“Nyari apa Bi?” Tanyaku sambil menahan tawa
“Kamu liat handphoneku, Rei?” tanyanya panik
“Gak, kan biasanya tuh handphone gak pernah jauh dari kamu Bi,” jawabku tetap menahan tawa
“Pinjem Handphonemu,” katanya
“Buat apa?” aku balik bertanya, panik.
“Mau coba telepon, mana!” jawabnya terlihat jelas dia panik
Mati, aku lupa silent…
“Gak ada pulsanya Bi,” jawabku beralasan
“Beli dulu, cepet!!”
“Mati,” aku kehabisan alasan
“Bohong, mana sini!” katanya sambil mengaduk isi tasku dan diambilnya telepon genggam yang sudah bersahabat denganku itu.
Ketauan deh…

Dia menekan beberapa angka yang sudah sangat dia hafal, tak lama kemudian terdengar dering telepon genggam dari saku blazerku, aku langsung memamerkan barisan gigi putihku tanpa ada perasaan bersalah

“GAK LUCU!!!” bentaknya yang langsung membuatku terdiam dengan perasaan bersalah
“Yang namanya Handphone itu privacy, kamu tau?” lanjutnya membuat setiap mata yang berada d kafe tertuju padaku
“Happy Birthday,” kataku sambil mengeluarkan kado yang sudah kubungkus rapih, berharap dapat menurunkan emosinya
“Kalo mau ngasih kejutan gak gitu caranya,” katanya ketus
“Kalo dikasih tau bukan kejutan namanya,” kataku masih tetap berusaha tenang
“TAPI BUKAN HANDPHONE JUGA, PRIVACY. NGERTI KAMU??” bentaknya membuat dadaku sesak

Mataku memanas dan mulai berkaca-kaca, hampir 3 tahun aku bersamanya tidak pernah dia marah sampai membentakku seperti ini, didepan umum.
“Maaf,,” kataku pelan
“Tapi haruskah kamu semarah itu? Kenapa?” lanjutku,
Marahnya membuatku dihinggapi rasa penasaran. Segera kubereskan barangku dan siap pulang, aku langsung kehilangan nafsu makanku.
“Privacy!!” jawabnya tetap dengan nada emosinya
“Tidak ada alasan lain?” kataku pelan lalu meninggalkannya dengan air mata yang sudah membasahi pipi.

Sampai aku mendekati pintu untuk meninggalkan tempat ini, aku tidak mendengar Fabian memanggil namaku untuk menahanku pulang. Jangankan untuk menahanku pulang, memandangku saja sepertinya dia tak mau.

Aku kembali melihatnya dengan ekor mataku, aku merasa seseorang sedang memperhatikanku, namun ternyata Fabian tetap asyik dengan handphonenya.
Apa yang kamu sembunyikan? Dua bulan menjelang pernikahan kamu masih menyembunyikan sesuatu dariku??

***

Puluhan pesan singkat darinya tidak ingin aku balas, puluhan telepon darinya selalu kutolak, bahkan aku tidak mau membuka kan pintu untuk Fabian, aku terluka dengan perlakuannya kemarin sore. Aku tidak pernah merahasiakan apapun darinya, semua pertanyaannya selalu ku jawab, jujur.

Dia bebas menggunakan handphoneku, dia boleh menghampiriku kapan saja selagi aku tidak sedang meeting. Tapi aku? Jika aku ingin bertemu dengannya, aku harus membuat janji. Aku bahkan sudah tidak boleh menyentuh handphonenya dengan alasan privacy. Semua itu hanya mengundang penasaran bagiku, dan membuatku merasa asing saat bersamanya.

Ku buka gorden jendela ruang tamu rumahku, ada perasaan bersalah saat aku melihat seorang laki-laki tertidur dikursi yang berada diteras rumah. Dia masih memakai kemeja kerjanya lengkap dengan sepatu kerjanya
Dia semalaman menungguku disana…

Ku buka pintu rumahku dan langsung membuatnya terbangun
“Maaf,” katanya saat aku membukakan pintu
“Aku terlalu panik,” lanjutnya saat melihatku hanya diam
“Kenapa?” aku hanya ingin membayar rasa penasaranku yang belum di jawabnya
“Aku panik karena belum catet alamat klien baruku,”
Benarkah??

Mendengar alasannya aku segera mengajaknya masuk, alasannya cukup masuk akal, atau setidaknya aku tidak punya bukti apapun untuk menuduhnya telah membohongiku.

Segera kusiapkan air hangat untuknya mandi, lalu menyiapkan sarapan untukku dan tentu saja untuknya. Aku melihat benda penyebab emosi Fabian itu ada di atas meja, aku mengikuti rasa penasaranku untuk membukanya. Tidak ada yang mencurigakan dari daftar panggilan disana, hanya ada nomorku, nomor beberapa klien dan temannya yang sudah kukenal. Lalu aku membaca satu persatu isi pesan singkat untuknya, dan lagi-lagi aku tidak menemukan hal yang mencurigakan, sampai aku membaca satu pesan yang cukup membuatku mengingat sesuatu

From: Davina
Sayang, Senin nanti maukan anter lagi aku ke rumah sakit??

Davina? Vina? senin? besok!!

Segera kusimpan benda kotak itu ditempatnya semula dan pada posisi semula, aku tidak punya bukti kuat untuk menuduhnya selingkuh, atau setidaknya se-tega itukah Fabian mengkhianatiku dua bulan menjelang pernikahan?

Fabian menghampiriku dan ikut duduk bersama denganku dimeja makan. Dia mulai melahap nasi goreng yang sudah kusiapkan, ada perasaan nyeri saat melihatnya tersenyum kepadaku, aku sudah tidak bisa membedakan dia tersenyum tulus dan dia tersenyum penuh dusta. Rasanya mataku mulai memanas saat aku harus menahan sesak di dadaku.

“Kenapa menangis Rei?” katanya saat mataku berkaca-kaca
“Mungkin hanya kangen ibu,” jawabku beralasan sambil menyeka air mata dari sudut mataku

Setelah selesai sarapan, dia segera pamit untuk istirahat dirumah. Aku tidak ingin menahannya untuk berlama-lama dirumahku seperti biasanya, hatiku seperti ditusuk ratusan duri saat melihatnya tersenyum. Hampir tiga tahun aku bersamanya aku selalu memberikan yang terbaik untuknya, selalu. Kenyataannya aku harus siap menerima pengkhianatan darinya. Adilkah ini bagiku??
***
Lanjut ke edisi 3

Author:

Freelance Writer. 20. English Literature student.

Insert New Comments

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s