Posted in Info, Love

Sang Penggenggam Alam (Edisi 3)

Hayoloh, udah gak sabar ya nunggu lanjutan cerita dari Edisi 2? Hahahaha, sabar yaaa. Alhamdulillah saya ada waktu juga hari ini jadi bisa posting Edisi 3 ini. Selamat membaca! ENJOY😀

Aku sudah ijin untuk tidak masuk kerja hari ini, aku beralasan sakit kepada atasanku, iya aku memang sakit, sakit hati. Aku teringat telepon Dina beberapa bulan yang lalu, dia melihat seorang lelaki mirip Fabian sedang bersama seorang wanita muda dirumah sakit ini. Dulu aku selalu berfikir itu hanya mirip, karena aku berhasil menemuinya, dikantornya. Namun kini aku merasa lelaki itu bukan hanya sekedar mirip, tapi lelaki itu benar-benar Fabian.

Satu jam berlalu…

Dua jam berlalu….

Tepat di jam ketiga aku melihatnya, Lelaki dengan kemeja hijau pucat, kemeja yang sudah kubungkus rapih sebagai kado dua hari yang lalu. Dia berjalan keluar ruangan bersama wanita cantik berambut panjang kecoklatan, Vina.

Segera ku ikuti langkah mereka, dengan sekuat tenaga ku tahan air mataku agar tidak meleleh di tempat ini. Aku menghampiri mereka yang sedang duduk di kantin rumah sakit

“Rei??” Sambut Fabian saat melihatku
“Iya, aku.” jawabku dingin
“Kenapa disini?” tanyanya kebingungan atas keberadaanku
“Seharusnya itu pertanyaanku buatmu Bi,” jawabku dengan suara yang mulai bergetar
“Aku yang memintanya mengantarku kesini,” jawab Vina
“Sudah berapa kali?” aku kembali bertanya
“hmm..Ba..Ru.. Pertama,” jawab Fabian terbata-bata, panik.
Aku tau kamu berbohong Bi…

“Tak perlu menumpuk dosa dengan terus membohongiku Bi,” kataku dengan setetes air mata yang siap diikuti tetesan air mata lainnya
“Sudah cukup sering, bahkan aku sendiri tidak sanggup untuk menghitungnya,” jawab Vina dengan santai
“Kenapa harus dia? Sudah tidak ada lagi yang bisa menemanimu?” Ingin kusiram mukanya dengan susu coklat yang ada dimeja jika tidak ingat dia sedang sakit
“Itu salah satu alasannya,” Vina menjawab tetap dengan santainya
“Maksudmu?” kataku sambil mengusap air mataku
“Ada beberapa alasan mengapa aku memilih Fabian,” Vina kembali menjawab santai dan tanpa dosa
“Berikan aku penjelasan agar aku tidak terluka Vina!” kataku pelan dengan air mata yang terus meleleh
“Aku bahkan tidak peduli jika kamu harus terluka Rei,” jawabnya tanpa mengubah gaya santainya.
“Aku tidak mengkhianatimu Rei,” Tiba-tiba Fabian ikut beralasan
“Apa aku sudah menuduhmu mengkhianatiku, Bi? Bahkan saat aku mempunyai bukti yang sangat kuat, apa aku menuduhmu?” aku balik bertanya dan berhasil membuatnya terdiam
“Aku mencintainya,” Kata Vina dengan yakin
Apa?? Kamu mencintainya??
“Aku mencintainya sejak kita kerjasama membangun sebuah hotel didaerah Cipanas,” lanjutnya sambil menatap Fabian, tunanganku.
Jawaban yang cukup membuatku terluka, ah tidak aku sudah terluka sejak Fabian menjadi sangat asing bagiku.
“Kenapa harus dia? Dia tunanganku!” kataku dengan air mata yang sudah menjadi anak sungai
“Maukah kamu melepaskan dia untukku?” vina kembali bertanya dengan wajahnya yang pucat tanpa mempedulikan pertanyaanku
Apa?? melepaskan tunanganku yang dua bulan lagi akan menikahiku?
“Apa maksudmu? Kamu ingin merampas kebahagiaanku? Apa salahku Vin?”
Melihat pertengkaranku dengan Vina, Fabian hanya diam.
“Iya, kamu tau siapa aku Reisha Hadinata? Kamu ingat 13 tahun yang lalu, saat ayah meninggal? kamu mengusirku dari rumahmu karena kita terlahir dari rahim yang berbeda,” jawabnya sambil menangis dan menatapku tajam, penuh dendam.

Deg!!!

Aku tidak sudi mempunyai adik sepertimu, lahir dari rahim seorang wanita yang menggoda ayahku, wanita perebut kebahagiaan ibuku. Aku tidak sudi jika aku harus tinggal satu atap bersamamu.

Aku teringat semua perkataanku kepadanya saat aku melempar seluruh pakaian dan barang miliknya.

“Kamu ingat sekarang? Masih mau bertanya apa salahmu? Aku tidak pernah meminta terlahir seperti itu Rei, bahkan aku sangat ingin bertanya kepada Tuhan, mengapa aku harus dilahirkan! Sudah 13 tahun kamu membuatku hidup tersiksa, dan kamu masih berani bertanya apa salahmu? Dimana hatimu Rei? Hati yang kukira akan secantik wajahmu,” lanjutnya dengan nada tinggi, dan berhasil membuatku diam, dengan perasaan yang sulit tergambarkan.
“Awalnya aku mendekati Fabian hanya ingin membuatmu tersiksa, namun sekarang aku benar-benar mencintainya,” lanjutnya pelan lalu kemudian terisak

Aku memang sangat membencimu Vina, dari dulu bahkan sampai sekarang aku semakin membencimu…

“Kamu mencintainya Bi?” aku menatap Fabian, dan aku dapat melihat jelas kebingungan diraut wajahnya
“Dia membutuhkanku Rei,” jawabnya pelan nyaris tak terdengar
“Dan kamu pikir aku tidak membutuhkanmu?” aku balik bertanya
“Aku rela memohon dan bersujud agar kamu mau melepaskan dia untukku Rei, bukankah sejak dulu aku selalu mengalah kepadamu?” kata Vina yang sudah siap berlutut dihadapanku

Apa yang harus kulakukan Tuhan??

“Kenapa meminta kepadaku? Mintalah kepada lelaki yang kamu harapkan menemanimu,”

Tuhan, kuatkan hatiku…..

“Maafkan aku Vin, pernikahan kita sudah didepan mata, aku tidak bisa bersamamu. Suatu hari nanti akan ada seorang lelaki yang jauh lebih baik untukmu,” kata Fabian lalu menarik tanganku sambil meneteskan air mata saat melirik Vina yang masih memandangnya. Ku ikuti langkahnya menjauh dari hadapan Vina yang kini sudah terduduk lemas dilantai sambil berlinang air mata penuh kekecewaan.

Jika memilihku kenapa kamu harus menangis Bi…?

“Kembalilah padanya Bi,” kataku seraya melepaskan tangannya dari pergelangan tanganku
“Apa Rei?” Langkahnya langsung terhenti mendengar ucapanku
“Kita akhiri saja pertunangan kita, aku terlalu dalam menggoreskan luka dihatinya. Jika dengan merelakanmu akan membuatnya memaafkanku, cintailah dia, atau setidaknya cintailah dia demi aku,” Kukatakan semua itu dengan yakin, bahkan sangat yakin.

Kulepaskan cincin pertunanganku dan kukembalikan kepadanya. Segera kulangkahkan kaki meninggalkannya dengan air mata yang sudah membanjiri kedua pipiku, dengan luka yang menganga dan terasa sangat perih. Aku berusaha tidak mempedulikan suara Fabian yang terus memanggil namaku, jika aku berhenti melangkah, aku takut dia akan mengejarku dan aku kembali lemah. Lemah karena tidak dapat menerima kenyataan bahwa Fabian sudah mencintai wanita lain, saudara tiriku.

Tuhan, aku percaya dia bukan jodohku…

Tuhan, aku percaya ada seseorang yang lebih pantas untukku…

Dan Tuhan, aku percaya semua ini terjadi untuk yang terbaik…..

***

Di jembatan ini, pertama kali aku melabuhkan cintaku pada pandangan pertama, kepada Pradipta…

Di jembatan ini, aku membangun mimpi-mimpi indahku tentang arsitek dan kehidupanku mendatang…

Di jembatan ini, aku mendengar Fabian mengungkapkan cintanya untukku…

Di jembatan ini, aku melihat Pradipta sedang berduaan bersama Kanaya…

Di jembatan ini aku bermimpi, tertawa, menangis….

Apa harus dijembatan inipula aku mengakhiri hidupku??

Fabian Adiputra, harta terakhirku. Satu-satunya harta paling berharga yang kumiliki, entah setan apa yang ada didalam diriku, aku memilih mengakhiri semua, mengakhiri pertunanganku bersamanya.

Aku menatap air yang mengalir deras dibawah jembatan ini, hatiku sangat terluka, beberapa jam yang lalu aku memutuskan pertunanganku, setelah semua sudah terencana dengan baik. Aku ingin menangis, berteriak, mengadu. Aku lelah…

Langit mulai menangis seolah mengerti yang kurasakan saat ini, langit biru kini telah berubah menjadi abu pekat, gelap.
Ayah, ibu, sebentar lagi kita bertemu….

“Saat satu pintu tertutup untuk kita akan ada pintu lain yang terbuka untuk kita, namun terkadang kita terlalu lama memandang dan menyesali pintu yang sudah tertutup, sehingga kita tidak menyadari pintu yang sudah terbuka,”

Suara itu membuyarkan lamunanku, suara dari seorang yang sangat lama kunanti, suara Pradipta.
“Ingat pepatah itu?” lanjutnya sambil melangkah mendekatiku
“Cinta membuatmu merasa dunia berhenti berputar??” lanjutnya
Hujan tidak membuatnya berlari untuk segera berteduh, dia menemaniku berdiri memandangi air yang mengalir dibawah guyuran hujan yang deras
“Ingin mengakhri semuanya karena cinta? Melupakan karirmu yang kini sudah cemerlang? Melupakan perjuanganmu untuk mendapatkan semua yang sekarang sudah kamu dapatkan?”
Mendengar semua pertanyaannya, membuatku menangis tersedu, taukah kamu mataku sudah sangat lelah mengeluarkan air mata.

Pradipta, apa aku tidak berhak merasakan kebahagiaan??

“Mau kupinjamkan bahuku untukmu menangis?” dia kembali bertanya lalu menarik tubuhku kedalam pelukannya, pelukan yang dulu sangat kuinginkan.

***

Dipta menemaniku sampai aku merasa jauh lebih tenang, ada perasaan senang disaat aku merasa terluka. Tapi tidak, aku tidak boleh senang atas kebaikan calon suami wanita lain.

Dipta mengajakku mengunjungi apartemennya, apartemen yang sangat nyaman dan sangat mencerminkan pribadi pemiliknya, sebuah apartemen yang tidak terlalu luas namun sangat tertata rapih, apartemen yang didominasi dengan warna putih. 1 set sofa menghadap satu kaca besar yang memperlihatkan keramaian kota Bandung, bisa ku bayangkan pemandangan dimalam hari saat aku duduk disofa itu.

“Dia tidak pantas kamu pertahankan,” Dipta mencairkan suasana, lalu membawakanku secangkir teh panas untukku
“Siapa?” Aku balik bertanya
“Fabian,” jawabnya pasti
“Kamu mengenalnya?”
“Hahaha, Kamu pikir orang yang kutemui untuk urusan penting waktu itu siapa?” jawabnya sambil tertawa, ah ya aku rindu tawa itu.

“Urusan penting apa?” aku semakin tidak mengerti dibuat kaum Adam yang satu ini
“Hanya sekedar latihan tinju dimukanya, aku melihatnya sedang berduaan bersama wanita lain,”
Sesuai dugaanku, luka dan memar diwajah Fabian waktu itu bukan karena dia jatuh…
“Wanita itu teman sekantorku,” lanjutnya yang semakin menarik perhatianku
“Wanita siapa?” aku semakin kebingungan
“Davina, wanita yang bersama Fabian waktu itu,”
Davina? Mengapa dunia terasa sangat sempit…
“Hari itu, Davina memaksaku bertukar proyek yang diberikan kantor, awalnya aku tidak mengerti tujuan Vina, seharusnya proyek yang dikerjakan Vina jauh lebih menggiurkan, Namun dengan senang hati, vina menyerahkan kepadaku. Namun akhirnya aku mengerti tujuan yang sebenarnya,” jelasnya sambil menatapku, tatapan yang sangat kurindukan.

Saat pertama kali aku mengenalnya, aku mengagumi kehebatannya, mengagumi karya-karyanya. Sampai akhirnya aku sangat menikmati saat-saat bersamanya. Meski dia sangat jarang tertawa, sangat jarang tersenyum, dan sangat sering mengeluarkan kata-kata yang berbau sindiran dan tajam namun aku tau dia bukan seorang yang jahat, karena sekarang aku tengah merasakan sisi lembutnya.

“Hampir setiap hari Vina bertanya tentangmu kepadaku, sebenernya apa hubunganmu dengannya?” Dia bertanya penuh selidik kepadaku
Vina bertanya kepadamu? sejauh mana kamu mengenalku??

“Dia saudara tiriku,” jawabku pelan
“Maksudmu?” Dia balik bertanya
“Davina Hadinata, sama sepertiku Reisha Hadinata. Ayahku bernama Andi Hadinata menikah dengan seorang wanita bernama Dinar, ibu yang telah melahirkan Davina. 12 tahun yang lalu, ayah membawa Davina kerumahku karena ibunya meninggal dunia, kedatangan Davina yang tak lain adalah adik tiriku sangat membuatku terkejut sekaligus terpukul, aku melihat ibuku terus menangis setelah mengetahui kabar ayahku menikah diam-diam bersama wanita itu, satu tahun aku hidup bersama Davina sampai suatu hari aku mengusirnya, beberapa minggu setelah ayah meninggal. Aku membencinya, sangat.”

Ini pertama kalinya kuceritakan masalah keluargaku kepada orang asing, bahkan Fabian tidak pernah tau tentang hal ini, sampai akhirnya Davina menceritakan semuanya dihadapan Fabian siang tadi.

“Jadi kamu…”
“Davina datang kembali dikehidupanku, dengan sengaja mendekati Fabian untuk menghancurkanku, membalaskan dendamnya yang sudah tertanam dihatinya bertahun-tahun,”
“…”
“Aku tau aku salah, Davina tidak bersalah, ayahku yang bersalah karena menyakiti ibuku. Tapi hatiku terluka saat aku harus menerima saudara yang terlahir dari rahim yang berbeda, sehingga aku mengusirnya. Dan semua itu menjadi alasan yang cukup kuat untuk dia membenciku, sampai dia berlutut kepadaku agar aku meninggalkan Fabian, dia mencintai tunanganku,” jelasku sambil terisak

“Kenyataan yang paling menyakitkan adalah saat Fabian menangis, Dia menangis saat meninggalkan Davina, buatku itu sudah lebih dari sekedar cukup untuk sebuah bukti bahwa dia kini mencintai wanita lain selain aku, dia mulai mencintai wanita itu. Dan sumpah demi apapun aku membenci wanita itu dan tidak pernah ingin berbagi bersamanya,” lanjutku tetap dengan air mata yang kini telah menjadi anak sungai dipipiku

“Lalu…”
“Aku mengakhiri pertunanganku, aku lebih memilih mengalah untuk wanita yang paling kubenci itu, aku telah melukai hatinya bertahun-tahun, dia juga berhak bahagia bukan?”
“Sudahlah, kamu harus percaya semua terjadi untuk yang terbaik, semua sudah ada takdirnya,” jawabnya menghiburku
“Iya, terima kasih,”
“Akhirnya kamu kembali kepadaku,” gumamnya
“Apa Dipta?”
“Ah tidak,” jawabnya lalu tersenyum, senyum yang sangat kuyakini dapat meluluhkan hati wanita manapun, termasuk aku.

***
Lanjut ke edisi 4

Author:

Freelance Writer. 20. English Literature student.

Insert New Comments

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s