Posted in Info, Love

Sang Penggenggam Alam (Edisi 4)

Sekalian nih, Edisi terakhir dari “Sang Penggenggam Alam”🙂

***

Aku menunggu Pradipta menjemputku, sejak hari itu kini Pradipta lebih banyak menghabiskan waktunya denganku, Pradipta kembali menjadi seperti dulu, kembali tidak banyak bicara, tidak banyak tersenyum, tidak banyak tertawa, tapi dia selalu bersamaku.

Andai saja dia belum menjadi milik Kanaya…

Tak lama kemudian Pradipta datang dengan Fortuner putihnya, aku segera duduk disampingnya. Dalam perjalanan menuju rumahku, aku menceritakan beberapa cerita lucu kepadanya, aku ingin melihatnya tertawa, dan menjadi pribadi yang menyenangkan dimatanya.

“Aku punya cerita lucu,” kataku berusaha mencairkan suasana
“Apa?” dia bertanya tanpa mengalihkan perhatiannya dari jalan didepannya
“Ada seorang lelaki sedang makan di warung soto pinggir jalan, tulisan digerobaknya SOTO AYAM. Lelaki itu mengaduk isi sotonya yang hanya kuah saja tanpa ada potongan daging ayam didalamnya, lelaki itu berdiri sambil menggebrak meja. Dia bilang, mas ini katanya soto ayam, mana ayamnya? cuma kuah doang. Lalu dengan santai pedagang soto itu menjawab, emangnya kalo kamu makan jambu monyet ada monyetnya? hahahah,” aku bercerita lalu tertawa sesaat setelah aku bercerita
“Hahahaha,” Pradipta ikut tertawa setelah mendengar ceritaku.
“Kupikir kamu telah berubah Rei, ternyata kamu tetap seperti dulu, konyol. Hahahaha,” lanjutnya sambil tertawa.
“Dipta, kamu tidak berniat mengundangku?” tanyaku beberapa saat kemudian. Tiba-tiba saja aku teringat undangan yang sempat kulihat waktu itu.
“mengundang?” dia balik bertanya kepadaku
“Waktu itu aku melihat Kanaya memberikan undangan untuk beberapa teman Dina,” jawabku sambil berusaha mengingat kejadian hari itu
“Kamu mengenal Kanaya? Kamu ingin aku memberikan undangan pernikahan Kanaya?” Dia kembali bertanya
Pernikahan Kanaya denganmu, apa kamu tidak ingin mengundangku Pradipta….

“Maksudmu undangan ini?” kata Pradipta sambil memberikan kartu undangan yang sempat kulihat waktu itu
Undangan berwarna kuning keemasan berinisial K dan P, inisial yang kuyakini nama dari Kanaya dan Pradipta. Aku menatap undangan itu, sedikit luka dihatiku, karena seharusnya sekarang akupun sedang menyebarkan undangan, tanggal pernikahan yang sudah ditetapkan saat itu kini sudah tinggal menghitung hari, namun Tuhan mempunyai rencana lain.

“Kamu mau menemaniku dipesta pernikahan Kanaya?” pertanyaan Pradipta membuyar lamunanku tentang pernikahanku

Apa? menemaninya dihari pernikahannya? Apa aku tidak salah dengar…

“Menemanimu? Dihari pernikahanmu? Gila…” jawabku tak percaya
“Tunggu…Tunggu.. Pernikahanku? Jadi menurutmu aku akan menikah dihari yang sama dengan pernikahan Kanaya?”
“Tentu saja menikah dihari yang sama, bukankah kamu yang akan menikahi Kanaya?”
“Hahahaha, jadi kamu pikir aku calon suaminya? Kenapa kamu bisa mempunyai pikiran seperti itu?”
“Aku sempat melihatmu sedang berduaan bersama Kanaya,” jawabku yang mulai tidak yakin dengan pikiranku sendiri
“Jadi kamu pikir orang yang berdua itu pasti ada hubungan khusus? Hahahah,” dia menertawakanku.

“Sudah tidak usah dipikirkan, temani aku dihari pernikahan Kanaya, waktunya bisa dilihat dalam undangan,” lanjutnya setelah melihatku terdiam karena salah tingkah

Aku mencintaimu karena Tuhan yang menginginkannya…
Kamu mencintaiku karena Tuhan yang menginginkannya…
Kita bersama dalam pernikahan-pun karena Tuhan yang menginginkannya…

Aku tersenyum setelah membaca tulisan yang menghiasi undangan berwarna kuning keemasan itu, aku membuka ikatan pita yang berwarna merah, lalu membaca tulisan berikutnya,

Menikah Kanaya Larasati dengan Prasetya Atmawijaya
Pada Rabu 9, Februari 2011

Rabu? Dua hari lagi??Prasetya??

“Sekarang sudah tau siapa yang menikah dengan Kanaya? Pradipta Dwilangga?” Dia bertanya saat melihatku terdiam setelah membaca nama yang tertulis di undangan itu
“Bukan, hehehe, namanya Prasetya,” jawabku malu, karena tuduhanku kepadanya

Sisa perjalanan menuju rumah banyak dihabiskan dengan diam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Aku sibuk dengan puluhan dugaanku terhadapnya yang kini semakin kuketahui penuh dengan kekeliruan, aku salah mengenalnya.

“Nanti lusa aku jemput ya,” kata Pradipta setelah aku turun dari mobilnya, aku segera menganggukan kepalanya lalu tersenyum kepadanya

***

Rabu pagi Pradipta datang menjemputku, menepati janjinya kepadaku. Aku melihat pengantin wanita dengan gaun berwarna putih yang indah, senyum tak henti-hentinya menghiasi bibirnya yang merah, dan dia tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih kepada setiap tamu yang menghadiri pesta pernikahannya.

Harusnya 3 hari yang akan datang aku merasakan apa yang sedang dirasakan Kanaya hari ini….

“Kamu pernah mencintai seseorang tapi cintamu bertepuk sebelah tangan?” tanya Dipta sambil melihat ke arah Kanaya lalu beberapa kali tersenyum kepada Kanaya
“Pernah,” jawabku

Aku mencintai kamu dulu, tapi kamu tidak membalas cintaku dulu, dan mungkin selamanya…

“Apa yang kamu lakukan?” dia kembali bertanya
“Aku hanya mencintainya diam-diam, mungkin lebih pantas disebut pemuja rahasia, aku tidak melakukan apapun, dan tidak ada seorangpun yang tau perasaanku saat itu,” jawabku pelan penuh kesedihan
“kenapa tidak di ungkapkan?” dia kembali bertanya, atau lebih tepatnya dia mendesakku untuk menceritakan semuanya
“Hahaha, aku malu. Dia terlalu hebat,” jawabku sambil tertawa sumbang

Kamu terlalu sempurna dimataku Pradipta…

“Nyerah donk?” lanjutnya
“Ya, kalo jodohkan gak lari kemana, lalu kamu?” aku membalikan pertanyaannya
“Aku pernah mencintai seseorang dulu, bahkan mungkin sekarangpun aku masih mencintainya,” Dia mulai bercerita

Siapakah wanita yang beruntung itu…

“Sayangnya dia tidak pernah tau, aku lebih memilih menghadapi klien yang sangat menyebalkan dibanding aku harus menghadapi dia dan mengutarakan perasaanku,” lanjutnya
“Kenapa? Aku rasa tidak akan ada wanita yang menolakmu,” Aku mendesaknya untuk menceritakan semuanya, aku penasaran nama dari wanita yang beruntung itu
“Itu hanya menurutmu,” jawabnya lalu tersenyum tipis

“Hai Rei” tiba-tiba saja Dina sudah disampingku tanpa kusadari
“Hai Din,” kata Pradipta lalu tersenyum manis, aku yakin Dina akan terpesona melihat senyumnya itu.

Lho… aku tidak pernah merasa mengenalkan Pradipta kepada Dina,,,tapi tadi Pradipta menyebut nama Dina…

“Oh kalian kenal?” tanyaku keheranan
“Sudah sejak dulu kali Rei, ya gak Dip?” jawab Dina lalu segera meminta persetujuan dari Pradipta, disusul dengan anggukan dan senyum Pradipta
“Oh ya, sejak kapan? Ko kamu gak pernah cerita Din?“ aku kembali bertanya
“Sejak kecil juga udah kenal,” jawab Pradipta santai
“maksudmu?” aku semakin kebingungan
“Dina dan Kanaya adalah sepupuku,” jawab Dipta lalu sambut dengan senyum dan anggukan Dina

Sepupu?? Apa??

***

“Kamu gak pernah cerita kalo kamu punya sepupu bernama Pradipta,” kataku saat masuk ruang kerja Dina
“Duh, kamu Rei ngagetin aja, salam dulu napa. Lagian kapan juga aku cerita saudara-saudaraku Rei?”
Jawabnya tanpa mengalihkan pandangannya dari tumpukan pekerjaannya
“Tapi pradipta…”
“Kenapa Dipta? Kamu suka? Hahaha,” potongnya lalu tertawa.
Seketika kurasakan mukaku memanas, mungkin kini mukaku sudah lebih pantas dibilang kepiting rebus, merah.
“Aku rasa Pradipta lebih baik dari Fabian dari segimanapun,” kata Dina saat aku sibuk mengembalikan warna kulit mukaku yang memerah
“Ya tentulah, kamu kan saudaranya,”
“Jika aku hanya temanmu, aku pun akan mengatakan hal yang sama,” lanjutnya tidak mau kalah
“Fabian juga baik,” walau bagaimanapun aku sempat berniat mengakhiri hidupku saat aku melepaskan Fabian demi wanita itu.
“Iya, malah Fabian terlalu baik. Sampai dia tidak bisa membedakan sikap yang baik sebagai tunangan dan sikap baik kepada wanita lain, saking baiknya dia tidak bisa meninggalkan cewek penggoda itu,” jawabnya penuh sindiran
“Aku yang meninggalkannya,” jawabku lemah
“Sudahlah Rei, tidak perlu menutupi kenyataan, walau bagaimanapun Fabian tetap saja, belang!” Perkataan Dina cukup menjadi cambukan bagiku, namun bagaimanapun aku harus menerima kenyataan tentangnya.

Ya, kamu benar Din,,,

***

Sabtu, 12 Februari 2011

Sabtu yang cerah, seharusnya hari ini aku sedang tersenyum merasakan bahagia menjadi seorang ratu dengan gaun putih, meski hanya menjadi ratu sehari. Mengingat hal itu aku kembali meneteskan air mata, aku berjanji ini terakhir kalinya aku menangis karena Fabian.

Samar-samar aku mendengar seseorang mengetuk pintu sambil memanggil namaku, Pradipta. Segera aku menghapus air mataku, aku tidak ingin terlihat jelek dimatanya.

Setelah beberapa saat, aku membukakan pintu rumahku untuk Pradipta. Ini pertama kalinya dia menginjakan kaki dirumahku, dia duduk di sofa ruang tamu sambil mengamati bentuk rumahku, mungkin dia sedang berfikir akan merenovasi rumahku. Kalo gratis siapa yang mau menolak? Ngarep!

“Ko gak ngabarin dulu mau datang?” kataku sambil menyimpan 2 gelas minuman dingin diatas meja
“Emangnya harus ya?” dia balik bertanya
“Bukan gitu, takutnya kamu kesini dan aku lagi pergi,”
“Kenyataannya kamu ada, kan?” jawabnya datar

Ah, selalu saja dia begitu…

“Aku kesini karena tau kamu pasti sedang memikirkan pernikahanmu yang batal itu, hari ini, kan?” katanya yang langsung membuatku tersenyum getir
“So tau kamu!” jawabku singkat

Ya, aku memang memikirkannya, wajarkan??

“Sudahlah, tidak perlu bersedih seperti itu, biar aku saja yang melamarmu,” katanya datar, namun matanya terus menatapku dan membuatku mencari kejujuran dari tatapan matanya

Benarkah yang kudengar??

“Kamu tidak mau?” dia kembali bertanya
“Bukan begitu, kalo kamu mau menghiburku tidak perlu dengan cara seperti ini,” kataku pelan
“Siapa yang bilang ini hiburan? Aku serius!” katanya penuh kepastian
“Kamu ni kenapa sih Dip?” aku bingung dengan pernyataannya.
“Wanita yang kucintai dulu adalah kamu, namun Tuhan tidak mempertemukanmu denganku setelah proyek itu berakhir. Aku mendatangi kantormu hari itu, ternyata kamu sudah pindah. Aku hanya berdoa semoga Tuhan menjagamu dengan baik, sampai akhirnya aku mendengar kabarmu dari Dina yang tak lain adalah sepupuku, kabar dari Dina hari itu memang tidak terlalu baik, karena kamu telah memilih lelaki lain, saat itu aku tidak mampu melakukan apapun, jangankan untuk merebut kekasih lelaki lain, untuk menyatakan cintapun aku merasa kesulitan,”
Dia memberikan jeda saat menceritakan semuanya kepadaku

“Aku hanya berdoa menitipkanmu dan berharap suatu saat nanti kamu akan kembali kepadaku, hampir empat tahun aku menunggumu, hanya mendengar kabarmu dari Dina, hanya dapat memandangmu dari kejauhan, hanya dapat tersenyum sendiri saat melihatmu tertawa, hanya dapat memperhatikanmu dari kejauhan saat melihatmu menangis, aku tidak dapat melakukan apapun untukmu,”

“Hampir setiap orang yang mengenalku selalu mengatakan aku sangat beruntung dengan semua yang kumiliki, kenyataannya aku hanya menjadi pecundang saat cinta mempermainkanku. Tapi aku percaya, Tuhan lebih mengetahui yang terbaik untukku,”
Aku hanya diam mendengar semua ceritanya tanpa mampu berkomentar apapun

“Sampai hari itu, Dina sengaja menghubungiku karena dia melihat Fabian sedang bersama seorang wanita di rumah sakit, wanita yang sangat kukenal, yang kini kuketahui sebagai saudara tirimu. Dengan sengaja aku menghampiri lelaki itu di kantornya, aku terluka melihat perlakuannya terhadapmu, seseorang yang ingin kulindungi meski kamu tidak pernah menyadarinya. Hatiku terluka saat melihatmu berjalan sambil tersenyum ceria saat kamu akan menemui Fabian yang sudah kuberi sedikit latihan hari itu,” Aku hanya mampu menutup rapat mulutku saat mendengar semua yang Pradipta jelaskan

Benarkah??

“Aku mengetahui semuanya tentangmu, bahkan saat Fabian tidak mengantarmu pulang demi Vina, aku mengikutimu sampai aku yakin kamu sudah aman didalam rumahmu,”
“Jadi kamu…”
“Aku juga melihat jelas saat kamu menangis didepan Fabian dan Vina saat di rumah sakit saat itu, melihat kamu melepas cincin tunanganmu lalu berlari menuju jembatan. Jembatan tempat pertama kali aku melihatmu. Bahkan aku melihatmu menangis saat Fabian membentakmu didepan umum, aku selalu bersamamu Rei,”
“Dari mana kamu tau semua kegiatanku?” tanyaku yang masih tidak percaya dengan semuanya
“Tentu saja dari Dina, Dina tidak pernah lupa memberikan kabar tentangmu, aku memintanya merahasiakan semuanya darimu, sampai saatnya tiba maka aku akan mengakui semuanya, dan mungkin inilah saatnya, waktu yang selalu kutunggu, dan kamu benar-benar kembali kepadaku bukan?”
“…”

Tuhan, Benarkah yang dia ceritakan??

“Aku sudah tidak ingin menunggu, empat tahun sudah lebih dari cukup aku menunggumu bukan?”
Kini aku dapat tersenyum mendengar seluruh pengakuannya

Mengapa tidak mengatakan semuanya lebih awal…

“Kamu tidak sedang latihan aktingkan?” Tanyaku beusaha memastikan apa yang telah kudengar
“Kamu pikir aku aktor? Ya, tapi mungkin aku pantas juga jadi bintang bollywood. Terajanaaa…. Terajanaaaa,” Jawabnya lalu menyanyikan sedikit lagu dangdut di susul dengan tawanya
“Hahahaha, kupikir kamu tidak bisa membuatku tertawa Dip,” kataku sambil tertawa
“Ya, membuatmu tertawa memang cukup sulit, menghibur seorang pelawak memang sulit, hahahha,”
“Iiiiiiiiiih, sebel,” kataku sambil mencubit tangan kurusnya, manja.
“Hahahaha, Jadi?” Dia kembali bertanya dengan wajah seriusnya
“Apanya?” aku balik bertanya
“lamaranku?”
“Wanita mana yang akan menolakmu Pradipta,” jawabku lalu tersenyum senang.

Mendengar jawabanku dia menarikku kedalam pelukannya, pelukan yang selalu kunanti dan kuimpikan, pelukan dari wujud nyata seorang Adrian.

“Pinjam laptopmu,” katanya setelah melepas pelukannya
“Balik lagi deh kayak dulu, tiada hari tanpa kerja,” jawabku
“Hahaha, enggak aku hanya ingin menunjukan sesuatu untukmu,”

Teruslah tertawa seperti itu Pradipta, aku senang melihatmu seperti itu…

Segera kuambilkan laptop sesuai permintaannya tadi, dia memasukan data kedalam laptop melalui flashdisknya, beberapa saat kemudian aku melihat sebuah folder bernama Reisha.
“Apa itu?” kataku sambil menunjukan folder itu
“Bukan itu yang akan ku tunjukan,” jawabnya mengelak
“Tapi aku pengen liat,”

Karena paksaanku akhirnya dia menyerah dan membuka isi folder itu, beberapa fotoku yang sedang beraktifitas, sedang menggambar dikantor, berjalan, makan bareng Fabian, tersenyum, tertawa, dan banyak lagi, dan ada sebuah catatan disana.
“Liat itu,” kataku sambil menunjukan catatan itu
“Jangan,” katanya jutek

Dia kembali dengan sifat aslinya…

“Kenapa?” tanyaku setengah memaksa
“Gak penting,” jawabnya singkat dan seketika mukanya memerah
“Kalo gak penting kenapa aku tidak boleh melihatnya?” kataku lalu mengarahkan kursor di atas catatan itu

Gadis ini bernama Reisha Hadinata, seorang yang ceria. wajahnya selalu menggambarkan isi hatinya. Dia merubah pandanganku tentang cinta, dia selalu berhasil membuatku tertawa saat bersamanya. Aku selalu berhasil mendapatkan tender apapun jenis bangunannya, namun akhirnya aku harus mengaku kalah saat lelaki lain berhasil mendapatkan cintanya, cintanya telah memilih lelaki lain yang bernama Fabian. Biarlah dia bersama Fabian saat ini, tapi suatu saat nanti semoga Tuhan membawanya kembali kepadaku untuk menemani hidupku, selamanya.

Aku mencintaimu saat itu Pradipta, namun aku tidak melakukan apa yang kamu lakukan kepadaku, aku terlalu pasrah dengan takdir, aku hanya percaya jodoh tidak akan pulang kerumah yang salah, sampai aku dengan mudah membalas cinta Fabian dan melupakanmu, kini aku mengerti kekuasaan Tuhan dan kekusaan cinta, cinta yang mengubahmu dan cinta yang telah mengubahku.

Aku memang selalu berusaha mencintai Fabian, aku selalu menganggapnya harta terakhir yang kumiliki, namun lagi-lagi aku keliru melihat kehidupanku, Fabian bukanlah hartaku yang sempat hilang. Sampai saat ini aku bahkan tetap sama seperti dulu, jantungku tetap berdetak lebih cepat saat aku bersamamu.

Apakah aku masih mencintainya?? Jika tidak, maka aku akan berusaha kembali mencintainya.

“ini yang ingin kutunjukan,” katanya sambil menunjukan satu gambar rumah, tampak depan samping, atas, belakang dan lengkap dengan interior didalamnya.
“Sepertinya aku mengenal rumah ini,” kataku kagum
“Tentu saja, rumah yang menjadi imajinasimu,” jawabnya
“Rumah itu beberapa bulan lagi mungkin selesai dibangun, masih didaerah Bandung,” lanjutnya yang membuatku merasakan sebuah kejutan yang luar biasa mengharukan

Kamu mengingat semua impianku….

“Aku ingin mewujudkan semua impianmu,” Katanya dengan yakin

Mendapat suami arsitek yang hebat, berkacamata, selalu terlihat rapih dan tinggal dirumah yang selalu ada dalam imajinasiku…semuanya ada dalam dirimu Pradipta

“Terima kasih Dipta sepertinya aku tidak salah menerima lamaranmu,” kataku dengan mata yang berkaca-kaca, terharu.

***

-Flashback-

Pradipta Dwilangga

Reisha sedang sibuk dengan sketsa logonya, dan aku sedang sibuk memperhatikan satu persatu hasil gambar yang telah dikerjakan drafter
“Aku tadi melihat rumah bagus saat menuju kesini,” kata Reisha tanpa mengalihkan perhatiannya dari sketchbook dihadapannya
“Oh ya? Rumah bagus menurutmu, seperti apa?” aku balik bertanya dan tanpa mengalihkan pandangan dari gambar-gambarku
“Rumah yang memilik kaca yang sangat besar, membuat sinar matahari dapat masuk menembus rumah,”
“Lalu,”
“Memiliki halaman yang cukup luas dan memiliki kolam ikan dan batu-batu alam, halaman yang ditumbuhi beberapa jenis tanaman, supaya terlihat lebih sejuk,” jawabnya sambil menghiasi sudut skechbooknya

“Lalu?” aku kembali bertanya sambil memandang wajahnya, menatap matanya yang selalu berbinar

Aku suka melihat matamu yang berbinar Rei…

“Memiliki halaman di belakangnya, untuk santai bersama keluarga,” Lanjutnya dengan mata yang berbinar-binar
“Trus?”
“Kamar utamanya memiliki Balkon, supaya bisa seperti seinetron-sinetron, hahahha, aku ini korban sinetron banget ya,” kata Reisha yang langsung disambut tawa dariku.
“Hahaha, lalu apa lagi?”
“Ya intinya rumah yang sangat nyaman,”
“hmmmmp, jadi rumah seperti itu yang tadi kamu lihat?”
“Bukan, rumah yang aku lihat jauh lebih sederhana dari rumah yang kuceritakan, tadi hanya rumah yang ingin kudapatkan,”

Tanpa dia sadari, aku menghentikan aktifitasku mengamati gambar kerjaku, lalu beralih mendengarkan dan mencatat seluruh rumah yang di impikannya.

Teruslah bermimpi Rei, aku senang mendengar mimpi-mimpimu, kelak semoga aku diberi waktu untuk mewujudkan impianmu….

The End
kritik & saran silahkan

Author:

Freelance Writer. 20. English Literature student.

Insert New Comments

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s