Posted in Info, Motivasi, Story

Hello, ended-March

 

Syukuri setiap jengkal kehidupanmu, nikmati dan jangan sia-siakan hidupmu sekarang. Dibalik semua kesusahanmu, kelak kamu akan mendapat berkah dan hadiah yang luar biasa dari Yang Kuasa. Jangan pernah ada kata menyerah dan putus asa. Suatu saat, kamu akan merindukan masa-masa seperti ini. Dan kelak ketika engkau sukses kemudian, cerita haru-mu akan memperindah dan melengkapi kehidupan bahagiamu di kemudian hari~ ^^

I’M BACK! Fuuuh..

Di penghujung bulan Maret yang penuh perjuangan, akhirnya kesampean juga corat-coret di blog butut ini. Alasan klasik: kuliah, tugas, dan fokus buat agenda UKM yang acaranya udah mulai mepet. Yah, sebenernya ada hal yang belum kesampean sampe sekarang ini; novel. Sejak liburan semester bulan Februari lalu, udah mulai merintis novel ber-genre romance, horror, dan fantasy sih.. tapi, sayang.. Mungkin Yang Maha Kuasa belum mengijinkanku untuk terkenal melalui novel *ah lupakan. Ya, intinya aku lebih suka nulis-nulis ngga jelas gitu terus ceritanya aku simpen di folder khusus buat nanti di baca gitu. Mungkin rasa minder juga, atau karena takut? Biarlah waktu yang menjawab, let it flow aja sih^^

Nah, bingung kan sebenernya aku mau ngapain nulis disini? Jadi, intinya aku mau curhat  share pengalaman aja gimana rasanya jadi mahasiswa sastra.  Awalnya aku berpikir kalau aku ngga akan bisa mengimbangi teman-temanku yang rata-rata aku rasa mereka udah high-level gitu di hal kaya gini. Semakin aku jalani, rasanya berat kalau aku harus menganalisis sesuatu bernama “Puisi” dan karya-karya sastra lainnya. Jujur, I don’t really like watching movies, reading poems, short stories, or even novel. Aku tahu itu. Aku lebih suka baca buku semacam motivasi-motivasi deh. Tetapi, aku ingat.. saat aku duduk di bangku Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama, aku dan dunia menulis itu bagaikan bunga dan lebah yang saling menguntungkan, bagaikan atom; bagian terkecil yang tidak dapat dipisah. Ya, pokoknya erat banget, kaya kutub Utara dan Selatan magnet yang mengikat kuat.

Sejak kelas 4 SD, aku suka nulis cerita-cerita fantasi anak-anak yang bagaikan membawa jiwa anak-anak melayang gitu alias berimajinasi.  Dan dari kebiasaanku menulis, aku berkesempatan untuk mengikuti beberapa lomba menulis tingkat SD se-kecamatan hihihi. Emang ngga seberapa sih, tapi lumayan hasil lombanya bisa buat beli bakso sendiri. Seneng kan, masih kecil jajan pake duit sendiri ha ha. Nah, sampai akhirnya aku pun mengikuti lomba lain selain menulis; pidato. Nerveous, gelisah aku rasain banget waktu ditunjuk buat ikut lomba ini sama seorang kerabatku. Gimana engga? Juri-jurinya adalah orang-orang penting dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan setempat. Setelah ber-struggling ria dan berkompetisi dengan peserta lain, akhirnya namaku keluar sebagai juara III. Not bad, lah karena notabene semua peserta rata-rata lebih senior dan sebagian besar dari mereka sudah membuat pidato yang temanya sama dengan tema yang ditentukan. Sedangkan aku? IMPROMPTU~ Feel that? Anak kelas 5 SD membuat pidato bertema “Bencana Alam di Indonesia” dengan metode dadakan. Ya sudah, at least aku bangga saat itu hihi.

Semua jerih payah selama di bangku Sekolah Dasar mengantarkanku ke Sekolah Menengah Pertama favorit. Mungkin di SMP itu, aku ngga banyak berkontribusi di berbagai macam lomba. Yep! Karena memang mindernya luar biasa. Kalau soal ini privacy deh ha ha. Tetapi, di SMP aku belajar banyak hal dan mulai menyukai dunia sastra  atau mungkin lebih tepatnya bahasa, seperti story telling, speech contest, conversation, dan ngga kalah seru yaitu olimpiade bahasa Inggris. Aku juga mulai tertarik di dunia film-ing dan novel-ing. Disinilah ketertarikanku pada dunia sastra mulai tumbuh secara alami. Seiring berjalannya waktu, kemampuan membacaku dapat dikatakan “lumayan” bagus daripada sebelumnya.

Di Sekolah Menengah ini kemampuan bahasa Inggris-ku pun masih dalam tahap berkembang, tapi aku mencoba iseng-iseng berhadiah mengikuti salah satu lomba bahasa Inggris di Kabupaten setempat. Olimpiade bahasa Inggris saat itu menjadi sejarah dan cerita sendiri yang ngga akan terlupakan meski aku gagal masuk final. Setidaknya, aku udah mencoba dan dapat begitu banyaaaak pelajaran dan pengalaman yang tak mungkin akan terulang kembali la la la^^

SMA.. Jeng..jeng. Inilah masa transisiku dari pikiran bocah menjadi sedikit lebih mature. Akhirnya, aku mencicipi dunia  yang lebih luas dan belajar segudang ilmu, dan tentunya bahasa Inggris. Waktu demi waktu berlalu. Aku selalu bergairah dan on fire setiap mengikuti pelajaran itu. Nilai-ku dalam bidang bahasa Inggris pun lagi-lagi lebih “lumayan” dibanding pelajaran lainnya. Sampai akhirnya, aku banyak mengikuti kompetisi debate, speech contest, dan National English Olympiad.  Namanya juga hidup, tak selalu berjalan mulus. Di satu sisi aku dan teman-teman memenangkan lomba debat, di sisi lain aku harus menelan kenyataan pahit bahwa aku gagal membawa pulang piala speech contest dan National English Olympiad. Semua itu tidak mengurung semangatku untuk terus belajar bahasa Inggris, hingga akhirnya aku memberanikan diri mengajukan beasiswa luar negeri ke salah satu Universitas bonafit di Scotlandia. Mimpiku, lagi-lagi belum terwujud. Walau aku sudah berusaha keras konsultasi ke salah satu guru bahasa Inggris-ku yang pernah mendapatkan beasiswa, tetapi apa mau di kata. Semua kan udah rencana dari Yang Di Atas^^

Di balik kegagalan selalu ada hikmah dan pelajaran. Setelah gagal untuk study abroad, akhirnya aku memantapkan pilihan untuk kuliah antara Teknologi Informatika, Manajemen Informatika, atau..Sastra Inggris. Galau? Tentunya! Ketiga pilihan itu sempat membuatku lemas dan down. Hingga pada akhirnya setelah gagal di SNMPTN, aku berhasil masuk melalui jalur SBMPTN dan diterima di Universitas Negeri Semarang, program studi Sastra Inggris~

Kabar itu tidak terlalu membuatku merasa senang pada awalnya. Jujur, aku lebih ingin masuk ke salah satu perguruan tinggi di kota XXX. Setelah menikmati pahit, asem, manisnya kehidupan di Semarang, aku sadar. Bahwa Tuhan telah mengukir kisah dan takdir yang indah untukku. Sempat terbesit di pikiranku, “andai saja aku berhasil mendapatkan beasiswa, mungkin aku tidak akan mendapatkan teman-teman se-gila, se-asyik, se-menarik mereka…”, “andai saja aku lolos ke Perguruan Tinggi X, apa mungkin aku bisa sebahagia ini disana…” itulah pertanyaan-pertanyaan yang muncul di benak-ku *halah.

Ya, kembali pada inti.. Aku bersyukur dan bahagia bisa belajar Sastra Inggris di Universitas Negeri Semarang ini. Dengan teman-teman yang menyenangkan, dan dosen yang tentunya luar biasa juga. Walaupun begitu banyak dan berat tugas yang dosen berikan, ingatlah, semua itu semata untuk bekal suksesmu di masa depan! So, readers! Syukuri setiap jengkal kehidupanmu, nikmati dan jangan sia-siakan hidupmu sekarang. Dibalik semua kesusahanmu, kelak kamu akan mendapat berkah dan hadiah yang luar biasa dari Yang Kuasa. Jangan pernah ada kata menyerah dan putus asa. Suatu saat, kamu akan merindukan masa-masa seperti ini. Dan kelak ketika engkau sukses kemudian, cerita haru-mu akan memperindah dan melengkapi kehidupan bahagiamu di kemudian hari~ ^^

Sampai disini dulu ya, readers. Aku mau lanjut ngerjain tugas. Ha ha. Bye, see ya next time!~

Lots of love,

Lilblackstar (@riaalyson)

Author:

Freelance Writer. 20. English Literature student.

Insert New Comments

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s